Skip to main content
Pakar Politik Universitas Bengkulu Drs.Azhar Marwan M.Si

Pakar Politik UNIB Angkat Bicara Terkait Puisi 'Ibu Indonesia'

BENGKULU, Tuntasonline.com - Video Puisi bertajuk 'Ibu Indonesia' yang ditulis dan dibacakan secara langsung oleh Sukmawati Soekarnoputri sempat viral di dunia maya beberapa waktu lalu, dengan adanya kejadian tersebut Drs. Azhar Marwan M.Si selaku Pakar Politik Universitas Bengkulu mengatakan bahwa kejadian tersebut sangat berpengaruh pada elektabilitas PDI-P dalam Pilpres dan Pilleg 2019 mendatang.

Sukmawati

Adanya Video pembacaan puisi kontroversial yang dilakukan oleh Sukmawati Soekarnoputri dinilai mampu menurunkan elektabilitas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dalam gelaran Pilpres dan Pilleg 2019 mendatang. Pasalnya, sosok Sukmawati sangat tidak bisa dipisahkan dengan PDI-P karena Sukmawati merupakan adik dari Ketua Umum PDI-P, Megawati Soekarnoputri.

Bahkan Drs. Azhar Marwan M.Si juga mengatakan bahwa Permasalahan yang timbul akibat Video Puisi Kontroversial tersebut akan berpengaruh kepada Kandidat-Kandidat yang diusung oleh PDI-P.

"Saya Pikir akan sangat berpengaruh, karna orang melihat bagaimana PDI-P, bagaimana Sukmawati, ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan, itu tentu sangat berpengaruh kepada kandidat-kandidat yang diusung dalam pertarungan (Pilkada serentak-red) 2018 ini," Ucap Pakar Politik yang merupakan salah satu Dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bengkulu.

Dampak terdekat yang akan terasa adalah pada Juni mendatang dimana Pilkada serentak akan diselenggarakan diseluruh Indonesia.

Tindakan yang dilakukan oleh Sukmawati ini juga dinilai naif, karena seharusnya Sukmawati melakukan sesuatu yang menguntungkan bagi dirinya dan orang lain, bukan malah merugikan. Atas Puisi Kontroversialnya itu pula PDI-P harus mencari cara agar masyarakat tidak berbalik arah dan akhirnya menimbulkan sikap antipati masyarakat terhadap partai berlambang kepala Banteng tersebut.

"Apa yang dia (Sukmawati Soekarnoputri-red) lakukan itu sangat naif, bukan menguntungkan malah merugikan PDI-P, dan merugikan orang-orang yang diusung oleh PDI-P, akhirnya sekarang akan sibuk 'menyelimuti' walaupun sudah minta maaf tapi orang sudah nawaitunya apa di balik itu," Ujar Drs. Azhar Marwan M.Si ketika diwawancarai di Ruang Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bengkulu pada Kamis (5/4).

Beliau juga mengungkapkan bahwa seharusnya setiap individu yang masuk ke dalam dunia politik harus mampu membangun rasa simpati masyarakat, bukan antipati. Seandainya antipati masyarakat terbangun, hancurlah Politik tersebut. Maka seharusnya figur Politik harus memikirkan dan mempertimbangkan terlebih dahulu apa yang ia ingin sampaikan kepada masyarakat agar tidak terjadi kesalahan dalam berucap dan berujung kepada sikap antipati masyarakat.(CW4)

Facebook comments

Adsense Google Auto Size