Insiden di Proyek PLTA Batangtoru, Berikut Telaah Ahli Geologi dan Gempa
Tabagsel, Tuntasonline.com - Insiden kecelakaan kerja yang menimpa Afuan Mari Mansyah (38) diduga karena faktor alam (longsor dadakan) pada Jumat (4/12/2020) pukul 15.32 WIB, kembali mengingatkan publik terhadap telaah seorang Ahli Geologi dan Gempa Sumatera Utara.
"Kota kecil Batangtoru di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan sangat rawan terhadap bencana longsor," tulis sang ahli, Jonathan Tarigan, kala itu di laman akun sosial medianya. Batangtoru merupakan lokasi pembangunan bendungan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Kekinian, pembangunan PLTA yang diproyeksikan bakal menghasilkan arus listrik sebesar 510 megawatt ini lagi dalam proses pengerjaan oleh PT. North Sumatera Hydro Energy (NSHE), yang didalamnya Afuan bekerja sebagai operator excavator dan mengalami kecelakaan kerja.
Jonathan menceritakan, pada tahun 2005 lalu ia pernah menyampaikan akan potensi ancaman bencana geologis di Tapanuli Selatan (Tapsel), tepatnya disaat sosialisasi mitigasi bencana geologis yang dilaksanakan pemkab setempat, bertempat di Tor Sibohi Nauli Hotel, Sipirok.
Di berbagai kesempatan, dia juga selalu mengingatkan betapa Kota Batangtoru sangat rawan terhadap bencana longsor. Termasuk saat ada pemaparan Amdal tambang emas (perusahaan lain yang beroperasi di Batangtoru) di hadapan Komisi Amdal Pemkab Tapsel.
Menurut Jonathan, kewajiban moral benar-benar sangat mengusiknya untuk menyampaikan informasi bahaya ancaman tersebut. Tujuannya jelas, untuk menghindari ada ataupun jatuhnya korban jiwa dikemudian hari.
Maka itu, Jonathan mengaku khawatir akan keberadaan PLTA Batangtoru. Bendungan yang dibangun PT. NSHE di daerah aliran sungai (DAS) itu, menurutnya, merupakan kawasan tektonik aktif, yang secara geologis merupakan daerah tidak stabil.
“Ketidakstabilan geologis DAS Batangtoru ini ditandai dengan terdapatnya gerakan tanah yang terus berlangsung, sebagaimana dapat dicermati di kawasan Aek Latong yang berjarak beberapa kilometer dari rencana lokasi bendungan itu,” ungkap Jonathan.
Kawasan PLTA Batangtoru, kata Jonathan lagi, berada pada jalur tektonik sangat aktif patahan Sumatera, dari ruas/segmen Toru dan juga berada dalam jangkauan pengaruh kegempaan bersumber dari Patahan Angkola.
Terakhir, Jonathan lagi-lagi mengingatkan akan potensi bencana di balik proyek pembangunan PLTA Batangtoru. "Jangan sampai dalih pembangunan infrastruktur justru, menciptakan potensi bom waktu bagi kehidupan manusia akibat pengabaian faktor alam,” pesannya.
Sementara itu, hingga hari ini (Rabu, 9/12/2020), kondisi ataupun keberadaan Afuan Mari Mansyah pasca terseret material longsor hingga jatuh dari ketinggian 200 meter bersama excavator yang dioperasikannya ke dasar Sungai Batangtoru belum diketahui secara pasti. [AS/TO]
- 4895 views
Facebook comments