Warga Gampong Trieng Pantang Gelar Kenduri dan Doa
LHOKSUKON, TuntasOnline.Com - Sudah turun menurun Warga Gampong Trieng Pantang, Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara melakukan pemujaan di lahan tumbuhnya Bambu yang diyakini tempat keramat, sehingga setiap tahun melakukan kenduri serta berdoa.
Hal ini terlihat masyarakat di sekirar Gampong Trieng Pantang sedang menunggu Hidangan Kari kambing Yang Telah Di Persiapkan Oleh Panitia Pelaksanaan Khanduri Tahunan Di Bawah pohon Bambu karena Setiap Tahun sekali Upacara Tersebut Di laksanakan.
Dan Sebelum Acara Pemotongan Kambing Dilaksanakan Warga Gampong Tersebut Terlebih Dahulu Melaksanakan Penggajian Selama Tiga Malam Berupa Bacaan Surah Yasiin.Tahlil Dan Samadiah, dan Memanjatkan Doa kepada Allah S.W.T Atas Rezeki Yang Telah Di Berikanya, serta memohon Doa untuk di Jauhkan dari segala Marabahaya.
Bambu pantang, atau dalam hahasa Acehnya disebut Trieng Pantang, bambu pantang ini tumbuh sejak kekuasaan raja Aceh Sultan Iskandar Muda hongga sekarang terus hidup di tepi sungai di Desa Trieng Pantang, dan tidak seorang pun yang berani Mengambil batangnya.
Geuchik Gampong Trieng Pantang Hasanuddin menyebutkan ke Media ini bahwa, yang melakukan khenduri di bawah pohon Bambu Pantang, bukan warga Trieng Pantang saja bahkan ada Warga sekitar yaitu Gampong Arongan, Cot Geulumpang, dan Gampong Lubok.
Hasanuddin mengatakan Bambu Pantang (Trieng pantang) tersebut sudah tumbuh bahkan sebelum tahun 1607 masehi bahkan sebelum masa kerajaan Sultan Iskandar Muda, dan Bambu Pantang pernah menjadi tempat persinggahan Raja Sultan Iskandar Muda dan penggikutnya, Bambu Pantang tersebut dipelihara dengan baik oleh warga Trieng Pantang.
Menurut Geuchik Hadanuddin Bambu Pantang tidak boleh di gunakan sembarang atau Keluar dari area sekitar tumbuhnya bambu pantang, terkecuali kebutuhan masyarakat sekitar bambu pantang tumbuh, sekalipun Keperluan Mesjid, Balai Pengajian, Pagar Masyarakat,Tidak Ada Seorang pun yang berani menggambilnya
Sejak tumbuh pertama tahun 1607 hingga sekarang Bambu Pantang ini sudah menjalar mencapai tujuh rumpun. Geuchik Hasanuddin menyebutkan selain Bambu Pantang masih ada tempat atau tumpukan Tanah di sekitar itu yang menjadi tempat masyarakat untuk melepaskan Nazar Atau Kaoul bagi petani sawah.
Ini terbukti bukan hanya masyarakat setempat yang bernazar bahkan diluar Kabupaten Aceh Utara, seperti masyarakat Kabupaten Pidie, Kabupaten Aceh Timur terut bernazar disini, sehingga mereka membawa Beras, Padi untuk di bagi-bagikan kepada pengunjung yang kebetulan lewat, ini Bukan Mitos dan donggeng tapi terbukti adanya bahkan tempat ini sering ditemukan Tikus yang berukuran besar sebesar Kelinci, tikus tersebut berwarna putih.
Disebutkan Geuchik Hasanuddin, Bambu Pantang ini selain di anggap masyatakat sudah Keramat, dan bambu pantang ini di jaga oleh seekor Harimau milik Teungku Malem Diwa.
Sekarang Bambu Tersebut Sudah Kami Jadikan Sebagai Tempat Wisata Religi Bagi Warga Luar Yang Hendak Melepaskan Nazar setelah Panenya, dan Melaksanakan Shalat serta melakukan penggajian dan berdoa, tempat ini sering digunakan sebagai tempat istirahat para pengunjung, Demikian sebut Hadanuddin Geuchik Trieng Pantang Lhoksukon.(Zaini).
- 149 views
Facebook comments