Tidak Berfungsi Maksimal, Sabo Dam di Karo Tuai Kritikan
Karo, Tuntasonline.com - Disamping erupsi Sinabung terus menerus menggempur Tanah Karo, untuk kesekian kalinya kehadiran mega proyek sabo dam kembali mendapat kritikan lantaran proyek pembangunan Sabo dam yang semula bertujuan sebagai pengendali laharan dari Gunung Sinabung, di Kecamatan Tiganderket, Lingkar Sinabung, Kecamatan Tiganderket Kabupaten Karo berfungsi kurang maksimal.
Baca Juga : Kunjungi Desa Teluk Ajang, Gubernur Rohidin Dialog Bersama Masyarakat
Pasalnya, pembangunan proyek besar yang ditangani langsung Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) II, PT PP dan PT Brantas terbukti tidak maksimal sebagai pengendali banjir lahar dingin dengan nilai kontrak cukup fantastis mencapai Rp.280 miliar.
Terpantau Sabo dam yang tertimbun tanah kerikil, material kayu-kayuan lainnya di Desa Sukatendel, Kecamatan Tiganderket, aksen Jalan Desa Perbaji-Desa Selandi juga terputus akibat terjadinya hujan di hulu Gunung Sinabun, sehingga lahar meluber ke badan jalan, Sabtu(22/8) pukul 11.20.WIB.
Jhon Junaidi Ginting Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang(DPC) Lembaga Aspirasi Masyarakat Indonesia (LAMI) Kabupaten Karo kepada wartawan mengatakan, bahwa, pembangunan Sabo Dam selama tiga tahun sejak tahun 2017 lalu diawali di Desa Perbaji dan Desa Sukatendel yang berjumlah 10 titik. Di desa Sukatendel, DKO 6, yang tepat pada titik jembatan. Pembangunan sabo dam pada jalur lahar ada 14 titik, semuanya menelan dana APBN sebesar Rp 280 milyar lebih serta sudah selesai termasuk di Desa Sukatendel, desa Kutambaru, dan desa Mardingding yang merupakan daerah rawan jalur lahar dingin Gunung Sinabung yang dikenal ganas dan dahsyat. Walaupun pembangunan mega proyek sabo dam sudah selesai namun masih dalam masa perawatan, Dinas PUPR agar menjalin komunikasi dan koordinasi dengan pihak owner rekanan sabo dam, supaya tidak terjadi kesalahpahaman atau mis komunikasi.
"Berdasarkan catatan kita, dua paket proyek pengendali banjir lahar dingin Sinabung (Sabo Dam) mencapai Rp280 miliar (dua paket) dengan rincian, masing-masing memiliki nilai kontrak Rp.170,92 miliar dan Rp.111,18 miliar dibangun selama tiga tahun sejak 2017 hingga 2019. Sabo Dam jebol atau tertimbun material lahar Gunung Sinabung sudah sering terjadi, teranyar Kamis (24/04/2020) yang lalu juga sempat merusak puluhan rumah warga maupun lahan pertanian warga," jelasnya.
Sementara itu, Relawan Lingkar Sinabung, Teger Bangun(40) warga desa Tiganderket, kecamatan Tiganderket, kabupaten Karo,mengatakan bahwa sejak awal pembangunan Sabo Dam tersebut, kita sudah mempertanyakan, terkait banyaknya sekat-sekat serta bentuk lengkungan kebawah jembatan yang sering membuat jembatan tidak sanggup menampung bahkan mengendalikan lahar dan material dari Puncak Sinabung, namun tidak di indahkan, sehingga mengakibatkan laharan sering meluber ke rumah penduduk dan lahan pertanian warga apa bila hujan di puncak Gunung Sinabung.
"Untuk Itu, saya sangat mengharapkan kepada instansi terkait, untuk meninjau ulang atas pembangunan Sabo Dam tersebut, agar kejadian seperti ini tidak berulang ulang. Mau dibongkar, diperbaiki kembali, itu terserah pemerintah. Yang penting, jembatan ini sanggup mengendalikan laharan," jelas Teger.
Di lain kesempatan Relawan Lingkar Sinabung Dedi Vernandho Ginting(45) warga desa Perbaji kecamatan Tiganderket, sangat menyesalkan atas kejadian laharan.
"Hal kejadian seperti ini sudah tidak terhitung lagi, ntah kapan lah bisa berhenti. Kalau, Sabo Dam masih seperti ini, saya yakin lahar tetap tidak bisa di normalisasi. Akibat lahar hujan ini, sudah pernah ada korban nyawa, jadi saya sebagai relawan lingkar Sinabung, sangat mengharapkan agar bisa ditinjau ulang, bagaimana caranya, itu terserah yang berkompeten untuk sesegera mungkin bisa, memperbaiki Sabo Dam tersebut, sebelum ada korban berikutnya," tuturnya.
Baca Juga : Dialog di Pasar Lais, Gubernur Rohidin Sampaikan Fokus Konektivitas Gebrak Ekonomi
"Kasian kita sama warga, setiap ada laharan, meluber ke rumah dan merusak lahan pertanian warga. Apa kita gak kasian melihat lahan pertanian warga yang terus menerus merugi akibat laharan?," pungkas Dedi penuh harap.(RT/TO)
- 302 views
Facebook comments